Rahayu Saraswati Terkejut Pengunduran Diri Ditolak, Didesak Pendukung Kembali ke Kursi DPR.

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo—akrab disapa Sara—kini dihadapkan pada persimpangan politik yang rumit. Pengunduran dirinya dari kursi legislatif secara resmi ditolak oleh dua otoritas krusial: Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI dan Mahkamah Kehormatan (MK) Partai Gerindra. Keputusan ganda yang mengikat ini memaksa Sara kembali bertugas, namun ia mengaku belum bisa mengambil langkah tegas.
Situasi Sara semakin rumit karena kabar penolakan tersebut datang di tengah kondisi domestik yang tak terduga. Sara, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @rahayusaraswati, mengungkapkan dilema politiknya diapit oleh bencana alam.
Sara mengisahkan bahwa ketika informasi penolakan pengunduran diri itu sampai, rumahnya di Jakarta justru sedang dilanda banjir. Kondisi ini, kata Sara, membuatnya belum sempat berpikir jernih untuk menentukan sikap politik berikutnya. Fokusnya terbagi antara kewajiban pribadi dan tuntutan institusional.
“Saat menerima kabar penolakan itu, rumah saya sedang banjir. Ditambah di satu sisi, ratusan pesan masuk bahwa mereka bersukacita doa mereka dikabulkan bahwa pengunduran diri saya ditolak, bahagia masih ada perwakilan perempuan dan anak muda yang bisa mereka harapkan padahal ada lho perempuan muda lain di DPR,” tutur Sara dikutip di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Pernyataan Sara ini menyoroti tekanan psikologis yang ia hadapi—antara urusan rumah tangga yang mendesak, tuntutan moral dari pendukung, dan kewajiban politik yang kembali memanggil.
Keputusan Sara untuk mundur sebelumnya memang mengundang berbagai interpretasi. Ia tak menampik adanya pandangan sinis yang menyebut pengunduran dirinya hanya sekadar gimmick politik. Namun, Sara menunjukkan bahwa penolakan dari MKD dan MK Gerindra membuktikan keseriusan institusi terhadap posisinya.
Penolakan dari MK Partai Gerindra mengindikasikan bahwa partai tersebut masih membutuhkan kontribusi dan perwakilan Sara di parlemen, terutama di Komisi VII yang vital mengawasi sektor energi dan sumber daya. Sementara itu, respons haru dari para pendukung—yang secara spesifik berharap ia terus menyuarakan isu perempuan dan anak muda—menjadi beban moral yang harus dipertimbangkan.
Dengan statusnya kini yang secara resmi harus kembali bertugas, tantangan terbesar bagi Rahayu Saraswati adalah bagaimana ia dapat meyakinkan publik bahwa keputusannya untuk kembali didasari oleh amanah dan bukan intervensi politik. Publik kini menanti konferensi pers atau pernyataan resmi Sara yang akan menentukan langkahnya, apakah ia akan menerima sepenuhnya keputusan MKD dan Gerindra, atau mencari mekanisme hukum lain untuk tetap mundur sesuai keinginannya.














