Di Balik Pelemahan Rupiah, IHSG Justru Cetak Rekor 

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Pasar keuangan Indonesia tengah mengalami dinamika yang kontras pada awal tahun 2026. Di satu sisi, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat. Namun di sisi lain, pasar modal justru menunjukkan gairah luar biasa dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Menanggapi situasi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimismenya bahwa kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang benar.

Pada perdagangan Selasa pagi (20/1/2026), nilai tukar Rupiah sempat menyentuh level Rp16.972 per dolar AS. Angka ini merupakan posisi terendah dalam beberapa waktu terakhir dan hampir menembus batas psikologis baru di level Rp17.000.

Meskipun angka ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, Menkeu Purbaya menekankan bahwa pelemahan ini bersifat sementara. Ia meyakini nilai tukar akan segera berbalik menguat (rebound) dalam waktu dekat.

“Kami terus memantau pergerakan pasar. Pelemahan ini memang terjadi, namun kita harus melihat gambaran besarnya. Pergerakan Rupiah pada akhirnya akan kembali pada fundamental ekonomi negara kita yang sangat kuat,” ujar Purbaya dalam pernyataannya yang dikutip dari Antara.

Kontras dengan pelemahan nilai mata uang, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menunjukkan performa yang mencengangkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mengejutkan ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin sore sebelumnya.

IHSG berhasil mencetak level tertinggi baru atau All Time High (ATH) di posisi 9.133,87. Pencapaian ini dianggap sebagai sinyal positif bahwa investor, baik domestik maupun asing, masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap prospek korporasi dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Menurut Purbaya, fenomena “anomali” ini—di mana bursa saham menguat saat mata uang melemah—menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia memiliki daya tahan atau resiliensi yang tinggi.

“Fundamental kita berbicara lewat data. Kinerja ekonomi yang resilien tercermin langsung di bursa saham. Angka IHSG yang menembus sembilan ribu adalah bukti nyata kepercayaan pasar terhadap masa depan ekonomi Indonesia,” tambahnya.

Para analis berpendapat bahwa optimisme Menkeu didukung oleh beberapa faktor pendukung ekonomi makro, seperti:

• Kinerja Ekspor yang tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

• Inflasi yang terkendali dalam rentang target pemerintah.

• Arus Investasi Langsung yang terus mengalir masuk ke sektor-sektor strategis.

Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan terus berkoordinasi untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi agar pelemahan Rupiah tidak berdampak luas pada harga barang di tingkat konsumen (inflasi impor).

Dengan capaian IHSG yang gemilang, pemerintah berharap sentimen positif dari pasar modal ini dapat segera merambat ke pasar valuta asing, sehingga Rupiah dapat kembali ke level yang lebih stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup