Sabam Sinaga Desak Prioritas Pemulihan Trauma Siswa di Sumatera dan Aceh

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Rentetan bencana alam yang menghantam tiga provinsi sekaligus—Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh—telah menyisakan luka mendalam. Di balik puing-puing bangunan dan infrastruktur yang luluh lantak, tersimpan bom waktu yang jauh lebih berbahaya jika diabaikan: guncangan psikologis pada ribuan anak-anak usia sekolah.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Sabam Sinaga, menyerukan peringatan keras kepada pemerintah pusat dan daerah. Ia menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak bisa lagi hanya berkutat pada semen dan batu bata.

Dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (22/1/2026), Sabam menyoroti kecenderungan pola penanganan bencana yang seringkali terpaku pada aspek fisik. Membangun kembali gedung sekolah yang roboh memang krusial, namun menurutnya, itu hanyalah langkah awal yang paling mudah.

“Pemerintah tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik gedung sekolah semata. Kita bisa membangun tembok dalam hitungan minggu, tetapi membangun kembali jiwa anak-anak yang hancur karena trauma membutuhkan pendekatan yang jauh lebih sensitif dan mendalam,” tegas Sabam.

Legislator ini mengingatkan bahwa bagi seorang anak, kehilangan rumah, melihat kehancuran sekolah, atau bahkan kehilangan anggota keluarga adalah pengalaman traumatis yang bisa membekas seumur hidup. Jika anak-anak ini dipaksa kembali belajar di gedung baru tanpa healing psikologis yang memadai, proses pendidikan tidak akan berjalan efektif.

Kekhawatiran terbesar yang dilontarkan oleh politikus Partai Demokrat ini adalah risiko munculnya “Lost Generation” atau generasi yang hilang. Istilah ini merujuk pada satu kohort pelajar yang mengalami kemunduran kemampuan akademik dan sosial secara drastis akibat gangguan pendidikan yang berkepanjangan dan trauma yang tidak tertangani.

Sabam memaparkan analisisnya mengenai risiko tersebut:

1. Penurunan Motivasi Belajar: Anak yang trauma cenderung sulit berkonsentrasi dan kehilangan semangat untuk menuntut ilmu.

2. Gangguan Emosional: Ketakutan akan bencana susulan membuat suasana belajar menjadi tidak kondusif.

3. Putus Sekolah: Tanpa pendampingan, banyak keluarga korban bencana yang akhirnya memilih memberhentikan anaknya sekolah demi alasan ekonomi atau keamanan.

“Jika penanganan pascabencana berjalan lambat, kita mempertaruhkan masa depan satu generasi pelajar di Sumatera bagian utara. Biaya sosial yang harus kita bayar di masa depan akan jauh lebih mahal daripada biaya pemulihan trauma saat ini,” lanjut Sabam.

Sebagai langkah konkret, Sabam mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk segera berkolaborasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan. Ia meminta adanya pengerahan tim Trauma Healing dan konselor pendidikan ke titik-titik terparah di Sumut, Sumbar, dan Aceh.

Ia menyarankan agar kurikulum darurat segera diterapkan, di mana porsi pembelajaran akademik dikurangi sementara waktu dan digantikan dengan aktivitas play therapy serta dukungan psikososial.

“Sekolah harus menjadi tempat paling aman dan menyenangkan bagi mereka saat ini. Kembalikan senyum mereka dulu, baru kita bicara soal kurikulum dan nilai akademik,” tutup Sabam.

Peringatan dari Senayan ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa tugas berat menanti pascabencana. Membangun kembali Sumatera dan Aceh bukan hanya soal menegakkan tiang bangunan, tetapi juga menegakkan kembali mental generasi penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup