Ribuan Warga Pejaten Timur Terkepung Bah 2 Meter.

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga Jakarta berubah menjadi cerita kelabu bagi ribuan penduduk di Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Alih-alih menikmati santai pagi, warga justru harus berjibaku menyelamatkan harta benda di tengah kepungan air bah (24/1/2026).
Hingga Sabtu siang, banjir akibat luapan Kali Ciliwung belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Wilayah ini kembali lumpuh, terendam dalam lautan air keruh yang membawa serta material lumpur dari hulu.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada pukul 10.20 WIB, suasana di sekitar Jembatan Gantung Pasar Minggu tampak memprihatinkan. Jembatan yang biasanya menjadi nadi penghubung antar-kampung kini menjadi titik pantau bagi warga yang cemas melihat debit air yang tak kunjung turun.
Di bawah jembatan, aliran Kali Ciliwung yang ganas telah meluap jauh melampaui tanggul alaminya. Kawasan permukiman padat penduduk yang berada di bantaran sungai, khususnya di sekitar Jalan Masjid Al-Makmur, nyaris “tenggelam”. Atap-atap rumah warga kini terlihat menyembul layaknya pulau-pulau kecil di tengah danau buatan yang keruh.
Data lapangan menunjukkan kondisi yang cukup ekstrem. Di sejumlah titik terparah, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari dua meter. Ini berarti bagi rumah berlantai satu, air sudah menyentuh plafon atau bahkan menenggelamkan seluruh bangunan.
“Genangan air belum menunjukkan tanda-tanda surut,” demikian laporan situasi terkini di lapangan.
Kondisi ini memaksa warga untuk bertahan di lantai dua rumah mereka atau mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Akses jalan darat di sekitar lokasi praktis terputus total. Gang-gang sempit yang biasanya ramai oleh aktivitas warga dan pedagang kaki lima, kini berubah menjadi jalur air yang hanya bisa dilalui oleh perahu karet tim SAR.
Pejaten Timur memang dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir di Jakarta Selatan karena kontur tanahnya yang cekung dan posisinya yang berada tepat di kelokan Kali Ciliwung. Namun, banjir pada awal tahun 2026 ini dirasakan cukup berat oleh warga.
Luapan ini disinyalir merupakan “banjir kiriman” dari daerah hulu (Bogor dan Depok) yang mengalami curah hujan tinggi, ditambah dengan intensitas hujan lokal yang mengguyur Jakarta beberapa hari terakhir.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari petugas kelurahan, BPBD, dan relawan masih terus bersiaga. Fokus utama saat ini adalah evakuasi warga lansia, anak-anak, dan mereka yang sakit, serta distribusi bantuan logistik makanan siap saji bagi warga yang memilih bertahan di lantai atas rumah mereka.
Warga Pejaten Timur kini hanya bisa menatap langit dengan harap-harap cemas. Mereka berdoa agar hujan tidak kembali turun di hulu, sehingga air yang merendam memori dan harta benda mereka bisa segera surut, dan kehidupan bisa kembali normal.














