Insiden Coret Jilbab Polwan Warnai Aksi Solidaritas di Mabes Polri

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Niat hati menuntut keadilan, namun segelintir oknum justru menodai esensi demokrasi dengan tindakan nir-etika. Aksi unjuk rasa yang digelar di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026), menyisakan sebuah kontroversi. Di tengah lautan massa yang menyuarakan aspirasi, sebuah insiden pelecehan terhadap atribut kepolisian sekaligus simbol keagamaan terjadi dan memicu respons tegas dari Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya.
Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang mahasiswi mengenakan almamater kuning yang diduga kuat berasal dari Universitas Indonesia (UI). Dalam rekaman tersebut, mahasiswi itu tampak mengambil kain penutup kepala (jilbab) berwarna putih milik seorang Polisi Wanita (Polwan) yang saat itu bertugas sebagai negosiator. Bukannya dikembalikan, jilbab tersebut justru dijadikan “kanvas” untuk menuliskan kalimat tak pantas sebelum akhirnya dipamerkan dan didokumentasikan oleh sang mahasiswi.
Menanggapi insiden provokatif tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Budi Hermanto, angkat bicara pada Sabtu (28/2/2026). Ia menyampaikan kekecewaan mendalam atas tindakan oknum mahasiswa yang dinilai telah melewati batas kewajaran dalam menyampaikan pendapat.
“Kain penutup kepala yang dikenakan Polwan adalah bagian resmi dari seragam kepolisian dan juga berfungsi krusial untuk menutupi aurat bagi pemakainya. Sangat tidak seharusnya atribut tersebut direbut dan digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dengan narasi yang bersifat provokatif,” tegas Budi Hermanto di Jakarta.
Budi mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi di muka umum memang dijamin oleh konstitusi. Polri pun selalu menghargai hak konstitusional masyarakat tersebut. Namun, ia menekankan bahwa ada garis demarkasi yang jelas antara kebebasan berpendapat dan tindakan anarkis atau pelecehan.
“Personel kami di lapangan berupaya melayani kegiatan penyampaian pendapat ini dengan pendekatan yang sangat humanis. Namun, cara penyampaian aspirasi dari massa juga harus tetap menghormati etika serta menghargai martabat pihak lain,” tambahnya. Ia meminta agar ke depannya, aksi demonstrasi tidak lagi diwarnai dengan tindakan merendahkan nilai-nilai kemanusiaan atau gestur yang sengaja dirancang untuk memancing emosi aparat di lapangan.
Aksi demonstrasi ini diketahui berawal dari seruan di media sosial. Melalui akun Instagram @bemui_official, diserukan aksi turun ke jalan pada pukul 13.00 WIB. Agenda utamanya adalah menuntut keadilan atas tragedi memilukan yang menimpa seorang siswa madrasah berinisial AT (14), yang dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan tindakan oknum anggota Brimob.
Mengingat tingginya tensi emosi massa dan sensitivitas isu yang diangkat, Polda Metro Jaya telah melakukan antisipasi matang. Kombes Pol Budi Hermanto mengungkapkan bahwa pihak kepolisian mengerahkan kekuatan penuh untuk menjaga agar aspirasi dapat tersampaikan tanpa mengorbankan ketertiban umum.
“Sebanyak 3.992 anggota dikerahkan untuk pengamanan. Jumlah ini terdiri dari 3.093 anggota Polda Metro Jaya, yang kemudian diperkuat oleh anggota tambahan dari polres jajaran,” papar Budi.
Pengamanan ekstra ini juga dilakukan mengingat aksi unjuk rasa bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan. Pihak kepolisian berkomitmen untuk memastikan demonstrasi berjalan tertib sehingga aktivitas masyarakat umum yang sedang menjalankan ibadah puasa tidak terganggu.
Menariknya, di balik makian kasar dan insiden pencoretan jilbab tersebut, pihak kepolisian memilih untuk tidak terpancing provokasi. Kombes Pol Budi Hermanto justru memberikan apresiasi kepada mayoritas mahasiswa yang tetap menjaga kondusivitas hingga aksi pembubaran diri.
“Meskipun dalam acara tersebut ada individu dari kalangan mahasiswa yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada anggota Polri dan menulis kalimat tidak pantas di jilbab Polwan, personel kami tetap bertahan dengan kepala dingin,” ujar Budi.
Menurutnya, insiden hari Jumat lalu memberikan pesan moral yang kuat, baik bagi aparat penegak hukum maupun elemen masyarakat sipil. “Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa kesabaran aparat dan kedewasaan massa adalah kunci utama yang dapat menciptakan situasi yang aman, kondusif, dan tetap terkendali,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak BEM UI terkait tindakan oknum mahasiswinya yang terekam dalam video viral tersebut. Publik kini menanti apakah ada langkah evaluasi internal dari pihak kampus agar insiden hilangnya etika dalam demonstrasi tidak terulang kembali di masa mendatang.














