Kemegahan Masjid Al Ikhlas PIK dan Simbol Harmoni yang Berdampingan dengan Si Mian Fo

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Lanskap kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), yang selama ini dikenal sebagai detak jantung bisnis dan gaya hidup di pesisir utara Jakarta, kini memiliki “wajah” baru. Di tengah deru aktivitas ekonomi yang tak pernah tidur, sebuah oase spiritual hadir menawarkan keteduhan. Pada hari Kamis, 15 Januari 2026, Masjid Al Ikhlas PIK resmi dibuka untuk umum, menandai babak baru keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi di kawasan elit tersebut.

Peresmian ikon religi anyar ini dilakukan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA. Momen bersejarah tersebut turut dihadiri dan didampingi oleh tokoh sentral di balik pengembangan kawasan ini, Chairman Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma (Aguan).

Berdiri megah di atas lahan seluas kurang lebih 2.435 meter persegi, Masjid Al Ikhlas bukan sekadar bangunan fungsional, melainkan sebuah karya seni arsitektur. Masjid ini mengusung konsep Islamic Classical Architecture yang kental dengan nuansa Timur Tengah, seolah membawa sepotong keagungan sejarah peradaban Islam ke tepian Jakarta.

Begitu melangkah masuk, jemaah disuguhi pemandangan interior yang ikonik. Ruang utama masjid didesain berbentuk lingkaran tanpa sudut, menciptakan kesan kontinuitas dan keabadian. Di langit-langitnya, sebuah kubah emas megah bertahta, dihiasi dengan guratan kaligrafi Surat Al Ikhlas yang rumit dan indah.

Nuansa di dalam masjid dirancang untuk menyentuh rasa tenang setiap pengunjung. Perpaduan warna emas yang melambangkan kemuliaan dan karpet biru yang menghamparkan kedamaian, menciptakan atmosfer sakral yang kuat. Di sinilah, sekitar 600 jemaah dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk, sejenak melupakan hiruk-pikuk kawasan bisnis di luarnya.

Namun, daya tarik Masjid Al Ikhlas melampaui keindahan fisiknya. Lokasinya di Riverwalk Island menyimpan pesan mendalam tentang jati diri bangsa Indonesia. Masjid ini tidak berdiri sendirian; ia berdiri berdampingan secara harmonis dengan Si Mian Fo, rumah ibadah bagi umat Buddha.

Pemandangan dua tempat ibadah dari latar belakang keyakinan berbeda yang berdiri berdampingan ini menjadi bukti nyata indahnya kerukunan di Tanah Air. Kehadiran Masjid Al Ikhlas menegaskan bahwa modernitas kota tidak harus menggerus nilai-nilai toleransi.

Nama masjid ini pun memiliki cerita tersendiri. “Nama ‘Al Ikhlas’ diberikan langsung oleh Menag Nasaruddin Umar,” ujar salah satu perwakilan pengelola. “Nama ini membawa filosofi ketulusan yang mendalam, serta harapan besar agar tempat ini menjadi pusat keberkahan, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya.”

Kehadiran Masjid Al Ikhlas menjadi jawaban atas kerinduan penghuni maupun pengunjung kawasan PIK 1 dan PIK 2 akan ruang ibadah yang representatif dan nyaman. Selama bertahun-tahun, seiring pesatnya pertumbuhan kawasan ini, kebutuhan akan fasilitas spiritual yang memadai semakin mendesak.

Kini, dengan berdirinya Masjid Al Ikhlas, aktivitas bisnis yang dinamis dan kebutuhan spiritual dapat berjalan selaras. Di pesisir utara Jakarta, di bawah naungan kubah emas yang baru, warga menemukan tempat untuk bersujud, sekaligus merayakan keberagaman yang menyatukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup