Pesan Menohok Ustaz Adi Hidayat untuk Pejabat Negara di Awal Tahun

JAKARTA, JEJAKPOS.ID – Mengawali fajar pertama di tahun 2026, sebuah pesan reflektif namun tajam menggema dari pendakwah kondang tanah air, Ustaz Adi Hidayat (UAH). Tepat pada Kamis, 1 Januari 2026, yang secara istimewa bertepatan dengan tanggal 9 Rajab 1455 Hijriah, UAH tidak hanya menyampaikan ucapan selamat tahun baru, melainkan melayangkan peringatan keras dan “ultimatum” spiritual yang ditujukan langsung kepada para pemangku kebijakan di negeri ini.
Melalui tayangan eksklusif di kanal YouTube resminya, UAH menyoroti esensi kekuasaan yang sering kali terlupakan di tengah hingar-bingar politik. Pesan ini secara spesifik dialamatkan kepada seluruh lapisan pejabat negara, mulai dari Presiden, jajaran Menteri, Gubernur, hingga aparatur sipil di tingkat paling bawah.
Dalam pembukaannya, UAH menekankan bahwa pertemuan antara awal tahun Masehi dan bulan mulia Rajab adalah momentum emas untuk muhasabah (introspeksi). Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan bukanlah privilese untuk dinikmati semata, melainkan sebuah ujian berat yang sedang berlangsung.
“Mereka yang terpilih menduduki kursi jabatan adalah orang-orang yang sedang diuji,” tegas UAH. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik fasilitas dan kehormatan yang diterima pejabat, terdapat beban amanah yang kelak akan dituntut pertanggungjawabannya, baik di pengadilan dunia maupun di pengadilan akhirat yang abadi.
Poin krusial yang diangkat oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini adalah mengenai pentingnya evaluasi kebijakan. UAH menyerukan agar para pejabat memiliki kerendahan hati untuk menengok ke belakang dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan-kebijakan yang telah diambil di masa lalu.
Dalam pidatonya, UAH juga menyentuh aspek etika berbisnis dan tanggung jawab kekuasaan. Hal ini menyiratkan pesan implisit agar para pemegang kekuasaan tidak mencampuradukkan kepentingan publik dengan kepentingan bisnis pribadi atau golongan, sebuah isu yang kerap menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Bagian paling menyentuh dari pesan awal tahun ini adalah pandangan UAH mengenai definisi kemuliaan seorang pemimpin. Di tengah budaya politik yang sering kali defensif dan enggan mengakui kekeliruan, UAH justru menantang para pejabat untuk memiliki keberanian moral.
Ia menekankan bahwa jika dalam proses evaluasi ditemukan kekurangan, cacat kebijakan, atau kesalahan fatal, seorang pemimpin harus berani memperbaikinya secara terbuka, bukan malah menutup-nutupinya demi pencitraan.
“Orang mulia bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang berupaya menampilkan kesalehan dan perbaikan setelah melakukan kesalahan,” ujar UAH dalam kutipan yang kini viral di media sosial.
Kalimat ini menjadi tamparan sekaligus motivasi bagi para birokrat. UAH menegaskan bahwa mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti integritas dan kualitas kenegarawanan seseorang.
Pesan UAH ini hadir sebagai kompas moral di awal tahun 2026. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, peringatan bahwa “jabatan hanyalah titipan sementara” diharapkan mampu mengerem ambisi kekuasaan yang berlebihan dan mengembalikan orientasi para pejabat untuk semata-mata melayani rakyat.
Publik kini menanti, apakah pesan tegas dari ulama kharismatik ini akan didengar dan diimplementasikan oleh para pemimpin bangsa, ataukah hanya akan berlalu sebagai angin lalu di pergantian tahun?














